8 Juni 2012

FUNGSI DAN PERANAN NITROGEN TERHADAP TANAMAN

Nitrogen atau Zat lemas adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang N dan nomor atom 7. Biasanya ditemukan sebagai gas tanpa warna, tanpa bau, tanpa rasa dan merupakan gas diatomik bukan logam yang stabil, sangat sulit bereaksi dengan unsur atau senyawa lainnya. Dinamakan zat lemas karena zat ini bersifat malas, tidak aktif bereaksi dengan unsur lainnya. Nitrogen adalah 78,08% persen dariatmosfir Bumi dan terdapat dalam banyak jaringan hidup. Nitrogen merupakan gas yang bebas dalam udara. Dalam tanaman leguminosa ditemukan bahwa terdapat nitrogen yang terikat dalam akar leguminosa. Meskipun begitu kita belum mengetahui seberapa banyak kandungan nitrogen dan hubungan nitrogen dengan tanaman pakan ternak.

Nitrogen merupakan unsur kunci dalam asam amino dan asam nukleat, dan ini menjadikan nitrogen penting bagi semua kehidupan. Protein disusun dari asam-asam amino, sementara asam nukleat menjadi salah satu komponen pembentuk DNA dan RNAPolong-polongan, seperti kedelai, mampu menangkap nitrogen secara langsung dariatmosfer karena bersimbiosis dengan bakteri bintil akar.

Nitrogen dengan kualitas tanaman pakan ternak secara jelas dapat dikatakan mempunyai hubungan yang sangat erat. Ini bisa kita lihat dari sumber – sumber nitrogen itu sendiri dan fungsi nitrogen untuk tanaman. Zat lemas yang merupakan nama lain dari nitrogen membentuk banyak senyawa penting seperti asam aminoamoniakasam nitrat, dan sianida. Dinamakan zat lemas karena nitrogen malas untuk bereaksi tetapi nitrogen cenderung membentuk senyawa – senyawa sendiri. Nitrogen diambil dan diserap oleh tanaman dalam bentuk : NO3- NH4+.

Fungsi nitrogen bagi tanaman adalah:

a. Diperlukan untuk pembentukan atau pertumbuhan bagian vegetatif tanaman,

seperti daun, batang dan akar.

b. Berperan penting dalam hal pembentukan hijau daun yang berguna sekali dalam proses fotosintesis.

c. Membentuk protein, lemak dan berbagai persenyawaan organik.

d. Meningkatkan mutu tanaman penghasil daun-daunan.

e. Meningkatkan perkembangbiakan mikro-organisme di dalam tanah.

Sumber-sumber nitrogen :

  a. Nitrogen antara lain bersumber dari bahan anorganik berupa pupuk buatan pabrik seperti urea, ZA, dan Amonium Sulfat.
 b. Udara merupakan sumber nitrogen paling besar  yang dalam proses pemanfaatannya oleh tanaman melalui perubahan terlebih dahulu, dalam bentuk amonia dan nitrat yang sampai ketanah melalui air hujan, atau yang di ikat oleh bakteri pengikat nitrogen.
c. Sumber nitrogen lainnya adalah pupuk kandang dan bahan2 organis lainnya.

5. Gejala kekurangan nitrogen :

Tanaman tumbuh kurus kerempeng, daun tua berwarna hijau muda, lalu berubah menjadi kekuning-kuningan, jaringatanaman mengering dan mati, buah kerdil, kecil dan cepat masak lalu rontok.

6. Kelebihan nitrogen berakibat :

  • Menghasilkan tunas muda yang lembek / lemah dan vegetatif
  • Kurang menghasilkan biji dan biji-bijian
  • Menperlambat pemasakan / penuaan buah dan biji-bijian
  • Mengasamkan reaksi tanah, menurunkan PH tanah, dan merugikan tanaman, sebab akan mengikat unsur hara lain, sehingga akan sulit diserap tanaman.
  • Pemupukan jadi kurang efektif dan tidak efisien.


26 April 2012

Hama dan Penyakit Tanaman Kelapa Sawit

JENIS-JENIS HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN KELAPA SAWIT. 

A. Penyakit
1. Penyakit Akar (Blast disease)
Gejala serangan :
– Tanaman tumbuh abnormal dan lemah
– Daun tanaman berubah menjadi berwarna kuning
Penyebab : Jamur (Rhizoctonia lamellifera dan Phytium sp.)
Cara pengendalian :
– Melakukan kegiatan persemaian dengan baik
– Mengatur pengairan agar tidak terjadi kekeringan di pertanaman

2. Penyakit Busuk Pangkal Batang (Basal stem rot/Ganoderma)
Gejala serangan:
– Daun berwarna hijau pucat
– Jamur yang terbentuk sedikit
– Daun tua menjadi layu dan patah
– Dari tempat yang terinfeksi keluar getah
Penyebab : Jamur Ganoderma applanatum, Ganoderma lucidum, dan Ganoderma pseudofferum.
Cara pengendalian  dan pencegahan :
– Membongkar tanaman yang terserang dan selanjutnya dibakar
– Melakukan pembumbunan tanaman

3. Penyakit Busuk Batang Atas (Upper stem rot)
Gejala serangan:
– Warna daun yang terbawah berubah dan selanjutnya mati
– Batang yang berada sekitar 2 m di atas tanah membusuk
– Bagian yang busuk berwarna cokelat keabuan
Penyebab :
Jamur Fomex noxius.
Cara pengendalian :
– Melakukan pembongkaran tanaman yang terserang dan membuang bagian tanaman yang terserang
– Bekas luka selanjutnya ditutupi dengan obat penutup luka

4. Penyakit Busuk Kering Pangkal Batang  (Dry basal rot)
Gejala serangan :
Tandan buah membusuk dan pelepah daun bagian bawah patah.
Penyebab :
Jamur Ceratocytis paradoxa.
Cara pengendalian : Membongkar tanaman yang terserang hebat dan selanjutnya dibakar.

5. Penyakit Busuk Kuncup (Spear rot)
Gejala serangan:
Jaringan pada kuncup (spear) membusuk dan berwarna kecokelatan.
Penyebab :
Belum diketahui dengan pasti.
Cara pengendalian : Memotong bagian kuncup yang terserang

6.Penyakit Busuk Titk Tumbuh (Bud rot)
Gejala serangan :
– Kuncup tanaman membusuk sehingga mudah dicabut
– Aroma kuncup yang terserang berbau busuk
Penyebab : Bakteri Erwinia.
Cara pengendalian : Belum ada cara efektif untuk memberantas penyakit ini.

7. Penyakit Garis Kuning (Patch yellow)
Gejala serangan:
Terdapat bercak daun berbentuk lonjong berwarna kuning dan di bagian tengahnya berwarna cokelat.
Penyebab : Jamur Fusarium oxysporum
Cara pengendalian : Melakukan inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda.  Hal ini bertujuan agar serangan penyakit di persemaian dan pada tanaman muda dapat berkurang.

8. Penyakit Antraknosa (Anthracnose)
Gejala serangan :
– Terdapat bercak-bercak cokelat tua di ujung dan tepi daun
– Bercak-bercak dikelilingi warna kuning
– Bercak ini merupakan batas antara bagian daun yang sehat dan yang terserang
Penyebab :   Jamur Melanconium sp., Glomerella cingulata, dan Botryodiplodia palmarum.
Cara pengendalian :
– Melakukan pengaturan jarak tanam, penyiraman secara teratur dan pemupukan berimbang
– Tanah yang menggumpal di akar harus disertakan pada waktu pemindahan bibit dari persemaian ke pembibitan utama.
– Pengaplikasian Captan 0,2% atau Cuman 0,1%.

9. Penyakit Tajuk (Crown disease)
Gejala serangan :
Helai daun bagian tengah pelepah berukuran kecil-kecil dan sobek.
Penyebab: Sifat genetik yang diturunkan dari tanaman induk.
Cara pengendalian : Melakukan seleksi terhadap tanaman induk yang bersifat karier penyakit ini.

10. Penyakit Busuk Tandan (Bunch rot)
Gejala serangan:
Terdapat miselium berwarna putih di antara buah masak atau pangkal pelepah daun.
Penyebab : Jamur Marasmius palmivorus.
Cara pengendalian : Melakukan kastrasi, penyerbukan buatan dan menjaga sanitasi kebun, terutama pada musim hujan. Pengaplikasian difolatan 0,2 %.

B. Hama

1. Nematoda (Rhadinaphelenchus cocophilus)
Gejala serangan :
– Daun terserang menggulung dan tumbuh tegak
– Warna daun berubah menjadi kuning dan selanjutnya mengering.
Cara pengendalian:
– Pohon yang terserang dibongkar dan selanjutnya dibakar
– Tanaman dimatikan dengan racun natriumarsenit

2. Tungau (Oligonychus sp.)
Gejala serangan :
Daun yang terserang berubah warnanya menjadi berwarna perunggu mengkilat (bronz).
Cara pengendalian : Pengaplikasian akasirida yang mengandung bahan aktif tetradifon 75,2 g/l.

3. Pimelephila ghesquierei
Gejala serangan :
Serangan menyebabkan lubang pada daun muda sehingga daun banyak yang patah.
Cara pengendalian :
– Serangan ringan dapat diatasi dengan memotong bagian yang terserang
– Pada serangan berat dilakukan penyemprotan parathion 0,02%.

4. Ulat api (Setora nitens, Darna trima dan Ploneta diducta)
Gejala serangan :
Daun yang terserang berlubang-lubang. Selanjutnya  daun hanya tersisa tulang daunnya saja.
Cara pengendalian :
Pengaplikasian insektisida berbahan aktif triazofos 242 g/l, karbaril 85 % dan klorpirifos 200 g/l.

5. Ulat kantong (Metisa plana, Mahasena corbetti dan Crematosphisa pendula)
Gejala serangan:
– Daun yang terserang menjadi rusak, berlubang dan tidak utuh lagi
– Selanjutnya daun menjadi kering dan berwarna abu-abu.
Cara pengendalian :
Pengaplikasian timah arsetat dengan dosis 2,5 kg/ha atau dengan insektisida berbahan aktif triklorfon 707 g/l, dengan dosis 1,5-2 kg/ha. 6.  Belalang Valanga nigricornis dan Gastrimargus marmoratus
Gejala serangan:
Terdapat bekas gigitan pada bagian tepi daun yang terserang.
Cara pengendalian :   Pengendalian dapat dilakukan dengan mendatangkan burungpemangsanya.

7. Kumbang Oryctes rhinoceros
Gejala serangan :
Daun muda yang belum membuka dan pada pangkal daun berlubang-lubang.
Cara pengendalian :
Menggunakan parasit kumbang, seperti jamur Metharrizium anisopliae dan virus Baculovirus oryctes.
Melepaskan predator kumbang, seperti tokek, ular dan burung.

8. Ngengat Tirathaba mundella (penggerek tandan buah)
Gejala serangan:
Terdapat lubang-lubang pada buah muda dan buah tua.
Cara pengendalian : Pengaplikasian insektisida yang mengandung bahan aktif triklorfon 707 g/l atau andosulfan 350 g/l.

9. Tikus (Rattus tiomanicus dan Rattus sp.)
Gejala serangan:
– Pertumbuhan bibit dan tanaman muda tidak normal
– Buah yang terserang menunjukkan bekas gigitan.
Cara pengendalian : Melakukan pengemposan pada sarangnya atau mendatangkan predator tikus, seperti kucing, ular dan burung hantu.

Dok: PPKS MARIHAT

25 April 2012

PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG PADA TANAMAN KELAPA SAWIT

Penyakit Busuk Pangkal Batang Kelapa Sawit

Penyebab Penyakit
Sejak 1920 patogen penyebab BPB di Afrika Barat telah diidentifikasi berasal dari genus Ganoderma. Spesies Ganoderma yang menyebabkan penyakit BPB dilaporkan berbeda-beda di setiap negara (Ariffin et al. 2000). Di Indonesia
diketahui penyebab BPB adalah spesies Ganoderma boninense. Hasil penelitian Abadi (1987) menunjukkan, bahwa penyebab BPB pada beberapa perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara adalah G. boninense, walaupun diketahui terdapat bentuk basidiokarp yang bervariasi dari seluruh basidiokarp yang dikumpulkan. Moncalvo (2000), memasukkan G. boninense ke dalam grup cendawan yang menyerang tanaman palem-paleman. Grup ini dibagi dalam tiga kelompok besar
dan ada kelompok yang tidak masuk dalam klasifikasi. Pengelompokkan ini berhubungan dengan daerah asal dimana spesies Ganoderma ditemukan.

Ganoderma boninense dinyatakan berasal dari Asia Tenggara, Jepang, dan Kawasan Pasifik Australia, selain itu G. boninense diketahui memiliki kategori penyebaran geografik yang meliputi wilayah Jepang, Indonesia, Asia Tenggara,
Papua New Guinea, dan Australia, dengan inang sebagian besar adalah tanaman palem-paleman. Cendawan G. boninense termasuk salah satu kelompok jamur kayu filum Basidiomycota, Ordo Aphyllophorales, dan famili Ganodermataceae dahulu disebut Polyporaceae (Alexopoulus et al. 1996). Cendawan G. boninense memiliki morfologi basidiokarp yang sangat bervariasi; ada yang bertangkai atau tidak, tumbuh horizontal atau vertikal, ada yang rata atau mengembung, dan ada yang terbentuk lingkaran konsentris. Semangun (2000) mengemukakan, bahwa
basidiokarp G. boninense awalnya tampak sebagai bongkol kecil berwarna putih yang berkembang membentuk piringan menyerupai kipas tebal (console bracket like). Basidiokarp yang dibentuk seringkali berdekatan, bersambungan, dan saling menutupi sehingga menjadi suatu susunan yang besar. Konveks atau bagian atas permukaan basidiokarp memiliki warna yang bervariasi, coklat muda hingga  coklat tua, tampak mengkilap khususnya pada basidiokarp muda, memiliki zonazona,dan kurang rata. Permukaan bawah basidiokarp berwarna putih pucat, memiliki lapisan pori yang merupakan tempat pembentukan basidium dan basidiospora.

Hasil penelitian Abadi (1987) menunjukkan, bahwa basidiokarp Ganoderma boninense yang ditemukan di Sumatera Utara memiliki lapisan kutis (atas) yang terdiri dari sel-sel berukuran 20-30 μm x 4-10 μm dengan ketebalan 0,1 mm. Diameter pori 150-400 μm, dengan disepimen (jaringan antara) sebesar 30-60 μm. Basidiospora berbentuk bulat panjang, berwarna keemasan, bagian atas kurang rata, berduri, terkadang memiliki vakuola. Cendawan G. boninense
memiliki pemanjangan basidiospora dan keseragaman konteks warna coklat.
Basidiospora yang dibentuk mencapai 9-13 μm x 5-7 μm. Basidiospora umumnya digunakan untuk perbanyakan secara seksual, dibentuk di dalam basidia yang berada pada pori-pori bagian bawah tubuh buah. Masing-masing basidium akan
menghasilkan empat jenis basidiospora yang memiliki genotip beragam (Seo &Kirk 2000). Sebaran dan Arti Penting Penyakit BPB Penyakit BPB pertama kali dideskripsikan pada tahun 1911 di Republik Kongo, Afrika Barat. Pada tahun 1931 di Malaysia dilaporkan penyakit BPB menyerang tanaman kelapa sawit berumur 25 tahun pada perkebunan yang telah diremajakan, tetapi tidak sampai menimbulkan kerugian secara ekonomi.
Pembudidayaan kelapa sawit secara besar-besaran pada akhir tahun 1960 menyebabkan perkembangan BPB meningkat dan mampu menyerang tanaman kelapa sawit yang lebih muda berumur 10 hingga 15 tahun. Patogen penyebab penyakit BPB dapat menginfeksi tanaman kelapa sawit lebih cepat 12 hingga 24 bulan setelah tanam dengan tingkat serangan yang lebih berat pada tanaman berumur 4 hingga 5 tahun terutama pada lahan generasi kedua dan ketiga (Ariffin et al. 2000).

Di Indonesia serangan BPB awalnya rendah pada tanaman kelapa sawit berumur 7 tahun, selanjutnya serangan meningkat sebesar 40% ketika tanaman kelapa sawit mencapai usia 12 tahun (Ariffin et al. 2000). Pada lahan generasi
keempat serangan BPB terjadi lebih awal dan menyerang tanaman berumur 1 hingga 2 tahun (Sinaga et al. 2003). Susanto (2002) menyatakan bahwa penyakit BPB dapat menyerang bibit-bibit kelapa sawit sejak di persemaian. Hal ini diduga karena patogen penyebab BPB semakin menyebar pada lahan yang sering diremajakan. Pernyataan ini diperkuat oleh Subronto et al. (2003) bahwa pada lahan generasi pertama serangan penyakit ini sangat rendah, dengan bertambahnya generasi tanam berikutnya maka persentase serangan akan semakin tinggi, dan gejala penyakit sudah dapat terlihat pada awal pertumbuhan tanaman.
Sinaga et al. (2003) mengemukakan, bahwa penyakit BPB ini sudah merupakan ancaman bagi berbagai perkebunan kelapa sawit di Indonesia, terutama pada kebun yang telah mengalami peremajaan berulang, bahkan pada kebun yang telah mengalami peremajaan tiga kali dengan tanaman belum menghasilkan (TBM), kejadian penyakit sudah terjadi hingga 11%. Hasil penelitiannya menunjukkan, semakin sering kebun sawit mengalami peremajaan atau pada areal pertanaman kelapa sawit sebelumnya ditanami dengan kopi, karet atau tanaman lain, maka semakin rendah keragaman, kelimpahan, dan pemerataan agens biokontrol yang ditemukan. Berkurangnya keberadaan, keragaman, dan kelimpahan agens antagonis (kurang dari 105 cfu/g tanah) akan menyebabkan tingginya kejadian penyakit BPB. Penyakit BPB dapat menyebabkan kehilangan hasil secara langsung  erhadap minyak sawit dan penurunan bobot tandan buah segar (fresh bunch fruit)  Susanto et al. 2005). Kerusakan yang ditimbulkan dapat mencapai 80% (Yulianti 001) hingga 100%, bahkan dapat menyebabkan kematian pada tanaman yang terserang (Abadi 1987).

Gejala
Pada tanaman yang terserang, belum tentu ditemukan tubuh buah Ganoderma boninense pada bagian pangkal batang, namun kita dapat  pengidentifikasi serangan lewat daun tombak yang tidak terbuka sebanyak ± 3 daun. Basidiokarp yang dibentuk awalnya berukuran kecil, bulat, berwarna putih, dengan pertumbuhan yang cepat hingga membentuk basidiokarp dewasa yang memiliki bentuk, ukuran, dan warna yang variatif. Umumnya basidiokarp berkembang sedikit di atas dan mengelilingi bagian pangkal batang yang sakit. Ukuran basidiokarp yang bertambah besar menunjukkan perkembangan penyakit semakin lanjut dan akhirnya menyebabkan kematian pada tanaman (Ariffin et al. 2000).
Pada tanaman muda gejala eksternal ditandai dengan menguningnya sebagian besar daun atau pola belang di beberapa bagian daun yang diikuti klorotik. Daun kuncup yang belum membuka ukurannya lebih kecil daripada daun normal dan mengalami nekrotik pada bagian ujungnya. Selain itu tanaman yang terserang juga kelihatan lebih pucat dari tanaman lain yang ada disekitarnya (Ariffin et al. 2000; Sinaga et al. 2003; Yanti & Susanto 2004), pertumbuhannya terhambat dan memiliki daun pedang (spear leaves) yang tidak membuka. Gejala pada tingkat serangan lanjut adalah selain adanya daun tombak yang tidak terbuka yaitu adanya nekrosis pada daun tua dimulai dari bagian bawah. Daun-daun tua yang mengalami nekrosis selanjutnya patah dan tetap menggantung pada pohon. Pada akhirnya tanaman akan mati dan tumbang. Gejala yang tampak pada daun menandakan bahwa penampang pangkal batang telah mengalami pembusukan
sebesar 50% atau lebih. Gejala yang khas sebelum tubuh buah terbentuk adalah terjadi pembusukan pada pangkal batang. Pada jaringan batang yang busuk, lesio tampak sebagai daerah berwarna coklat muda disertai adanya daerah berwarna gelap berbentuk pita tidak beraturan (Ariffin et al. 2000; Susanto 2002). Serangan lebih lanjut dapat mengakibatkan tanaman kelapa sawit tumbang, karena jaringan kayu pada bagian pangkal batang mengalami pelapukan (Yanti & Susanto 2004).
Secara mikroskopis gejala internal akar sakit mirip seperti batang yang terinfeksi. Jaringan korteks akar yang sakit berubah warna dari putih menjadi coklat (Susanto 2002). Jaringan kortikel berwarna coklat dan mudah untuk didisintegrasikan, selain itu stele menjadi kehitaman. Pada akar tanaman tua bagian permukaan sebelah dalam eksodermis ditemukan tanda penyakit berupa hifa berwarna keputihan (Ariffin et al. 2000). Pada serangan yang sudah lanjut,  jaringan korteks rapuh dan mudah hancur. Hifa biasanya terdapat di jaringan korteks, endodermis, xylem, dan floem (Ariffin et al. 2000; Susanto 2002).

Patogenesitas Ganoderma
Ganoderma boninense adalah kelompok cendawan busuk putih (white rot fungi), cendawan ini bersifat lignolitik (Susanto 2002; Paterson 2007). Oleh sebab itu, cendawan ini mempunyai aktivitas yang lebih tinggi dalam mendegradasi lignin dibandingkan kelompok lain. Komponen penyusun dinding sel tanaman adalah lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Cendawan G. boninense memperoleh energi utama dari selulosa, setelah lignin berhasil didegradasi, selain itu karbohidrat seperti zat pati dan pektin, diperoleh meskipun dalam jumlah kecil (Paterson 2007). Selulosa merupakan bagian terbesar yang terdapat dalam dinding sel tanaman, yaitu berkisar antara 39-55 persen, kemudian lignin 18-33 persen, dan hemiselulosa 21-24 persen (Martawijaya et al. 2005). Dengan demikian, untuk dapat menyerang tanaman, cendawan tersebut harus mampu mendegradasi ketiga komponen tersebut (bahan-bahan berligno-selulosa). Lignin merupakan polimer senyawa aromatik yang membungkus komponen polisakarida (selulosa dan hemiselulosa) dinding kayu baik secara fisik maupun secara kimiawi, sehingga akan meningkatkan ketahanan kayu sebagai material komposit yang resisten terhadap serangan mikroorganisme. Lignin tersusun melalui stuktur kompleks polimer yang menghubungkan tiga unit monomerik dengan ikatan karbonkarbon dan aril eter. Unit monomerik lignin terdiri dari koniferil, sinapil, dan ρ-kumaril alkohol. Lignoselulosa pada kelapa sawit sama halnya seperti selulosa dan hemiselulosa yang berasosiasi dengan lignin, memiliki kemampuan untuk melindungi tanaman dari serangan mikroorganisme, meningkatkan ketahanan tanaman, dan memberikan perlindungan terhadap dinding sel dan jaringan xylem tanaman.

Cendawan Ganoderma memiliki kemampuan untuk mengurai lignin menjadi karbon dioksida dan air dengan cara memutus struktur cincin monomer dari lignin, sehingga memudahkan untuk akses energi melalui selulosa. Enzim yang digunakan untuk memutus struktur monomer lignin adalah lignolitik. Enzim ini diklasifikasikan menjadi dua bagian, ligninolitik yang dapat mendegradasi dengan cepat termasuk manganase peroksidase (MnP), lakase, dan lignin peroksidase (LIP). Cendawan busuk putih juga menghasilkan ligninolitik yang tidak diklasifikasikan bergantung dari peroksidase dan lakase (fenol oksidase, LAC) yang mengalami proses oksidase. Enzim peroksidase yang terkandung dalam ligninolitik memerlukan peroksida untuk dapat bekerja dengan baik. Lakase mengoksidasi fenol dalam lignin menjadi radikal fenoksi yang dapat didegradasi lebih lanjut menjadi struktur lain. Lakase berperan dalam degradasi lignin melalui oksidasi gugus fenol menjadi quinon, pengoksidasinya melalui proses dimetilasi yang akan mengubah metoksi menjadi metanol (Susanto 2002; Paterson 2007). Delignifikasi dapat berupa proses perombakan lignin atau pelepasan lignin dari ikatannya dengan selulosa. LIP dapat menyerang tanaman dengan cara mendegradasi lignin terkadang juga selulosa (Seo & Kirk 2000).
Selulosa merupakan polimer dari 800−12.000 unit glukosa yang dihubungkan oleh ikatan β-1,4 glikosidik. Rantai komponen glukosa cukup panjang sehingga harus dipecah satu persatu. Komponen ini terdiri dari kristal selulosa, selulosa amorfik, selulosa rantai pendek, selobiose, dan glukosa (Paterson 2007). Di alam molekul glukosa tersusun dalam bentuk fibril yang dihubungkan oleh ikatan hidrogen. Fibril tersebut sebagian bersifat kristalin dan pada kayu dibungkus oleh lignin yang berperan sebagai pelindung selulosa terhadap enzim pemecah selulosa. Selulosa dapat dihidrolisis oleh enzim kelompok endo β-glukanase, ekso β-glukanase, dan β-glukosidase (Susanto 2002; Paterson 2007).
Hemiselulosa pada kayu tersusun dari galaktomanan, glukomanan, arabinogalaktan, dan xilan. Galaktomanan, manan, dan fragmen oligosakarida rentan terhadap enzim α-D-galaktosidase, endo β-D-manase, ekso β-D-manase dan ekso β-D-manan manobiohidrolase (Susanto 2002; Paterson 2007). Patogenisitas Ganoderma tidak hanya terjadi pada tanaman tua, tetapi dapat terjadi pada planlet dan bibit kelapa sawit (Susanto 2002; Franqueville 2004), tetapi untuk dapat menimbulkan penyakit, cendawan ini membutuhkan inokulum yang cukup besar. Keistimewaan Ganoderma adalah mampu bertahan pada jaringan kayu tua atau sisa-sisa tanaman di dalam tanah, sehingga menyebabkan sumber penyakit bersifat persisten di lapang. Pada tanaman tahunan infeksi Ganoderma pada jaringan kayu akan berkembang perlahan dan meluas pada kondisi yang mendukung perkembangannya. Material tanaman yang sudah tertulari Ganoderma dapat menjadi sumber inokulum potensial, dan dapat menulari tanah selama beberapa bulan, sehingga patogen dapat melakukan invasi ke bagian tanaman lain pada saat mulai menanam (Flood et al. 2000).

Epidemi Penyakit Busuk Pangkal Batang
Spesies Ganoderma yang patogenik pada kelapa sawit mempunyai kisaran  nang yang luas. Pada habitat alami di hutan, cendawan ini dapat menyerang tanaman berkayu. Selain menyerang kelapa sawit, spesies Ganoderma dapat menyerang tanaman perkebunan lain seperti kelapa, karet, teh, kakao, serta berbagai macam jenis pohon tanaman hutan seperti Acacia, Populus, dan Macadamia (Ariffin et al. 2000).
Penularan penyakit BPB terutama terjadi melalui kontak akar tanaman sehat dengan sumber inokulum yang dapat berupa akar dan batang sakit. Akarakar  anaman kelapa sawit muda, tertarik kepada tunggul yang membusuk yang mengandung banyak hara dan kelembaban tinggi. Agar dapat menginfeksi akar tanaman sehat, cendawan harus mempunyai bekal makanan (food base) yang cukup (Semangun 2000). Kejadian penyakit BPB pada kelapa sawit meningkat pada kebun yang sebelumnya atau ditanam bersamaan dengan kelapa, terutama pada kebun yang terdapat sisa-sisa tunggul kelapa yang terbenam di dalam tanah. Ganoderma menginfeksi tanaman lebih awal 12 hingga 24 bulan pada tanaman kelapa sawit berumur 4 hingga 5 tahun yang ditanam bersamaan dengan tanaman kelapa. Daur penyakit meningkat 40% hingga 50% setelah tanaman berumur 15 tahun. Situasi seperti inipun terjadi pada kebun kelapa sawit yang telah diremajakan (Ariffin et  l. 2000). Menurut pengamatan Susanto (2002); Sinaga et al. (2003)

Gd_basidiospora

Ganoderma dapat hidup pada tunggul kayu karet dan kakao. Kebun yang banyak mempunyai tunggul karet, kelapa sawit, kelapa atau tanaman hutan lain akan cenderung mempunyai penyakit yang tinggi. Tunggul-tunggul itu berfungsi sebagai sumber inokulum potensial Ganodema. Oleh karena itu disarankan pada waktu tanam ulang, sisa-sisa tanaman itu dimusnahkan. Infeksi oleh Ganoderma dimulai ketika Ganoderma melakukan kontak dengan akar tanaman. Sumber-sumber inokulum seperti akar dan batang sakit berpotensi untuk menularkan penyakit BPB. Sisa-sisa tanaman sakit yang kontak dengan akar tanaman sehat dapat meningkatkan penyebaran penyakit meskipun tidak melibatkan basidiospora. Di lain pihak ada yang menyatakan bahwa penyebaran penyakit selain melalui kontak akar sakit dengan akar sehat,
basidiospora yang disebarkan oleh angin berpotensi menularkan penyakit. Peranan basidiospora dalam distribusi penyakit BPB hingga saat ini masih menjadi kontra, karena untuk dapat menimbulkan penyakit BPB, basidiospora membutuhkan
miselium yang memiliki tipe mating sama, sehingga dapat membentuk miselium sekunder dan tubuh buah. Susanto (2002) memperkuat pernyataan tersebut bahwa penyakit yang disebabkan oleh kontak akar harus berasal dari spesies Ganoderma yang sama.

Studi yang dilakukan di Malaysia menunjukkan bahwa Ganoderma yang ada di areal kebun, tidak berasal dari penyebaran basidiospora dari satu kebun ke kebun yang lain. Basidiospora yang dihasilkan tubuh buah tidak dapat menyebabkan terjadinya infeksi langsung pada tanaman kelapa sawit sehat, tetapi mempunyai kemampuan saprofitik untuk mengkoloni substrat dan membangun inokulum yang berpotensi untuk menginfeksi tanaman sehat (Paterson 2007). Basidiospora berpengaruh secara nyata terhadap epidemiologi penyakit, tetapi tidak meningkatkan kejadian penyakit. Basidiospora dibebaskan dan disebarkan oleh bantuan angin. Penyebaran spora juga dibantu oleh kumbang Oryctes rhinoceros yang
larvanya banyak ditemukan pada batang kelapa sawit yang membusuk. Terdapat beberapa faktor krusial yang dapat mempengaruhi perkembangan penyakit BPB antara lain umur tanaman, jenis tanah, status hara, teknik penanaman, dan
tanaman yang ditanam sebelum pembukaan lahan baru. Penyakit busuk pangkal batang kelapa sawit awalnya menyerang tanaman tua berumur lebih dari 25 tahun, tetapi sekarang ini dapat menyerang tanaman yang berumur 5-15 tahun (Ariffin et  l. 2000). Serangan Ganoderma pada kelapa sawit meningkat sejalan dengan semakin tuanya umur tanaman. Hal ini menunjukkan kecenderungan bahwa umur tanaman mempengaruhi tingkat perkembangan penyakit. Umur tanaman yang
semakin dewasa, akan membuat sistem perakarannya semakin panjang sehingga tingkat probabilitas terjadinya inokulasi dengan inokulum semakin tinggi (Susanto 2002). Selain itu kerusakan tanaman akibat serangan patogen akan terus meningkat sejalan dengan bertambahnya daur pertanaman dalam suatu kebun. Hal ini terjadi karena substrat bagi Ganoderma akan semakin tersedia atau inokulum semakin tinggi populasinya. Letak kebun tidak terlalu berpengaruh sebab penyakit ini banyak ditemui di daerah pantai maupun daerah pedalaman. Laporan awal menyebutkan bahwa penyakit BPB banyak terjadi pada daerah pantai, tetapi laporan terakhir menyebutkan bahwa BPB banyak terjadi di daerah pantai maupun daerah pedalaman. Demikian juga untuk jenis tanah, laporan awal menyatakan bahwa penyakit BPB jarang ditemukan di tanah gambut dan serangan berat banyak terjadi pada tanah laterit. Namun sekarang, serangan Ganoderma dapat terjadi pada semua jenis tanah antara lain: podsolik, hidromorfik, alluvial, dan tanah gambut.

Luka pada tanaman berperan sebagai titik mula atau membantu tempat masuknya Ganoderma ke tanaman. Luka pada tanaman ini dapat disebabkan oleh faktor biologis misalnya gigitan tikus, tupai, babi hutan, dan serangga. Faktor yang kedua adalah luka mekanis, misalnya akibat parang, cangkul ataupun alat berat. Tanaman yang lemah akan mudah terserang patogen. Lemahnya tanaman ini dapat disebabkan karena kurangnya hara bagi tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebun yang dipupuk dengan unsur hara makro seperti nitrogen (N), potassium (P), dan kalium (K) dapat meningkatkan kesehatan tanaman. Akan tetapi kekurangan akan unsur hara mikro seperti boron (B) dan tembaga (Cu) serta magnesium (Mg) dapat meningkatkan kejadian penyakit (Ariffin et al. 2000).

Ganoderma mungkin saja bukan patogen yang sangat agresif.  Umumnya orang yakin bahwa tumpukan kayu yang membusuk dimana koloni Ganoderma tumbuh berkembang merupakan sumber inokulum yang menyebabkan terinfeksinya akar dan penurunan daya tahan kelapa sawit.  Hal ini menunjukkan mungkin saja jamur ini adalah pathogen yang lemah untuk kelapa sawit yang sehat.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Muchovej dkk. (1980) dan Spiegel dkk. (1987) menyatakan bahwa senyawa kalsium (Ca) merupakan makro nutrien utama bagi tanaman yang dapat memperkuat dinding sel dan meningkatkan permeabilitas membran jaringan tanaman. Kalsium ternyata juga dapat meningkatkan daya tahan tanaman terhadap sejumlah jamur seperti jamur PythiumSclerotiumBotrytis dan Fusarium.  Pemberian kalsium ke dalam tanah ternyata juga dapat meningkatkan populasi mikroflora tanah yang bersifat antagonistik seperti jamur TrichodermaPenicillium dan AspergillusMereka akan bersaing dengan Ganoderma dalam memperebutkan makanan dan ruang tempat dimana mereka hidup (Kommedahl dan Windels, 1981).  Sariah dkk. (1996) telah mengevaluasi hal tersebut dimana pemberian kalsium nitrat (, dengan kandungan N 15% dan Ca 19%) dapat menjadi penghalang terhadap serangan penyakit BSR, dimana pathogen menjadi melemah secara statis dan pertumbuhannya menurun/melambat.

(Note :Tulisan diambil dari berbagai sumber).

14 Desember 2011

PEMUPUKAN PADA TANAMAN KELAPA SAWIT

Pemupukan

Pupuk merupakan sumber unsur hara utama yang sangat menentukan tingkat pertumbuhan dan produksi tanaman. Setiap unsur hara memiliki peranan masing-masing dan dapat menunjukkan gejala tertentu pada tanaman apabila ketersediaannya kurang. Beberapa hal yang harus diperhatikan agar pemupukan efisien dan tepat sasaran adalah meliputi penentuan jenis pupuk, dosis pupuk, metode pemupukan, waktu dan frekuensi pemupukan serta pengawasan mutu pupuk (BUDIDAYA KELAPA SAWIT, Pusat Penelitian Kelapa Sawit / Indonesian Oil Plam Research Institute –IOPRI, 2003).

Pemupukan adalah tindakan yang dilakukan untuk memberikan unsur hara kepada tanah yang dibutuhkan untuk pertumbuhan normal tanaman. Adapun unsur hara esensial untuk pertumbuhan tanaman terdiri dari ;

1. Unsur hara Makro

- Carbon (C)

- Hidrogen (H) Didapat dari Udara dan Air

- Oksigen (O)

- Nitrogen (N) Didapat dari Tanah dan Air

- Fosfor (F)

- Kalium (K)

- Kalsium (Ca) Didapat dari Tanah

- Magnesium (Mg)

- Sulfur (S)

1. Unsur hara Mikro

- Boron (B)

- Klor (Cl)

- Tembaga (Cu)

- Besi (Fe) Didapat dari Tanah

- Mangan (Mn)

- Molibdenum (Mo)

- Seng (Zn)

Adapun dasar pertimbangan dilakukannya pemupukan adalah :

Pertama :Ketersediaan hara tanah, hal ini dapat terjadi karena kandungan hara dalam tanah yang berasal dari bahan induk pada umnumnya memang rendah. Kedua :Kehilangan hara tanah melalui panen, erosi dan penguapan.

Pemupukan juga dipengaruhi oleh :

1. Sifat dan cirri tanah, kemasaman tanah (pH)

Pengaruh pH tanah terhadap Nitrogen

Perubahan Amonium (NH4+) menjadi Nitrat (NH3-) akan berlangsung sebagai proses oksidasi enzimatik yang dibantu oleh bakteri Nitrobacter dan Nitrosmonas hal ini disebut proses Nitrifikasi (proses perubahan ammonium menjadi nitrat oleh bakteri) berlangsung antara kisaran pH 5,5 – 10,0 dengan pH optimum 8,5 (Pupuk dan Pemupukan. Jurusan Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Universitas Islam Sumatera Utara. Medan). Pada tanah yang masam atau pH tanah rendah, perubahan ammonium menjadi nitrat akan terhambat. Hal ini juga dipengaruhi oleh kandungan oksigen dalam tanah atau Aerasi tanah dan juga perbandingan kandungan Ca, P, Fe, Mn, serta unsur-unsur lainnya.

Penambatan N oleh liat

Pada tanah masam akan mempengaruhi ketersediaan N tanah. Hal ini terjadi karena adanya penambatan dari ion-ion ammonium antara kisi-kisi mineral yang sudah mengembang ataupun mengkerut.

Pengaruh pH tanah terhadap ketersediaan Fosfor & Kalium

Aktifitas ion P di dalam tanah berbanding lurus dengan pH tanah yang artinya bila pH naik sampai ketingkat tertentu maka P akan tersedia. Bila pH tanah rendah maka yang terjadi konsentrasi Al dan Fe meningkat yang akan bereaksi dengan fosfat membentuk garam Fe dan Al-P yang tidak larut. Kisaran pH untuk ketersediaan P yang terbaik adalah antara 6 – 7.

Pengaruh pH tanah terhadap unsur mikro

Ketersediaan unsur hara mikro dikaitkan dengan kegiatan mikro organisme tanah yang ikut mentransfer unsur tersebut ke tanah, misalnya organisme tanah membantu mempercepat proses oksidasi unsur Mn, Zn, Cu, Mo, dan Al.

1. Tekstur tanah

* Respon pemupukan N dan K lebih tinggi pada tanah ringan
* Respon pemupukan P lebih tinggi pada tanah berat

1. Iklim

* Air. Sebelum tanaman dapat mengabsorpsi hara, syaratnya adalah unsur hara tersebut harus terdapat pada zona perakoran (kondisi tanah yang lembab). Untuk keperluan transpirasi yang akan mengangkut Nitrat, Sulfat, Kalium, Magnesium ke akar dari daerah yang jauh dari jangkauan akar.

1. Temperatur

Temperatur yang terlalu rendah dapat menyebabkan tanaman tidak dapat menggunakan hara yang ditambahkan. Begitu pula jika temperatur terlalu tinggi, serapan hara semakin tinggi sampai batas yang dapat ditolerir tanaman.

1. Udara tanah

Secara langsung dapat mengatur kehidupan jasad renik tanah yang melakukan proses oksidasii enzimatik.

1. Pola pertanian

Tanaman semusim (Jagung, dll), Tanaman tahunan (Sawit, Karet, dll), Tanaman basah & kering (Padi), Tanaman intercropping (tanaman sela)

1. Pupuk yang digunakan

Jenis pupuk, Sifat & cirri-ciri pupuk, Dosis pupuk

KTK (Kapasitas Tukan Kation)

Adalah kapasitas tanah menyerap dan mempertukarkan ion. Ion dapat berupa kation dan besarannya disebut Kapasitas Tukan Kation (KTK).

KTK sangat penting berkenaan dengan kesuburan tanah, penyerapan unsur hara, ameliorasi tanah, dan mutu lingkungan.

Dengan daya serapnya, koloid tanah dapat menambat air hujan atau air irigasi dan kation tahan dari pelapukan mineral, mineralisasi bahan organik atau dari pupuk. KTK menjadi faktor pembentuk cadangan air dan hara basa dalam tanah yang dapat mengefisienkan penggunaan air dan hara basa oleh tumbuhan.

KTK tanah berbeda-beda tergantung pada;

- Kadar dan macam lempung dan kadar bahan organik; KTK makin besar

Kadar bahan organik dan senyawa-senyawa organik penyusun bahan-bahan organik (tanah dan lingkungan).

Pupuk

Pupuk Dasar (Dolomit, Kieserite)

Pupuk Dasar berfungsi terhadap reaksi pH tanah (kesuburan tanah) yang sangat menentukan efisiensi pemupukan. Secara umum tanah-tanah di Indonesia bereaksi masam. Untuk itu, peran pupuk dasar sangat penting untuk perkembangan akar sehingga mempu menyerap hara dalam tanah.(IFDC, 1987. Fertilizer Manual. International Fertilizer Development Centre. United Nation Industrial Development Organization)

Reaksi tanah berdaya pengaruh langsung dan tak langsung terhadap perkembangan tanaman. Daya pengaruh langsung ialah pengendalian ketersediaan hara tumbuhan dan kegiatan jasad renik tanah.

Pupuk Makro

1. 1. Pupuk Urea

Merupakan pupuk Nitrogen untuk pertumbuhan akar, batang dan daun. Sebelum diserap oleh akar, nitrogen terlebih dahulu diubah menjadi nitrat melalui beberapa tahapan proses alamiah. Pupuk urea sangat peka terhadap air / uap air dan suhu udara. Urea yang terurai oleh air menjadi Carbon Dioksida (CO2) dan Amoniak (NH3). Kedua senyawa ini pada suhu khatulistiwa 28º – 31º C akan menjadi gas. Pada musim kemarau hampir 55 % dari dosis urea yang ditaburkan hilang oleh penguapan. Dan dimusim hujan, urea akan larut dalam air mencapai 79% dan hilang dalam proses pencucian. Maka sangat tidak menguntungkan jika urea ditaburkan pada saat matahari sangat terik atau saat jumlah air melimpah. (Cooke, G.W. 1982. Fertilizer For Maximum Yield. Granada Publishing. London)

1. 2. Pupuk Phospat (TSP, SP-36, CiRP, RP dan lainnya)

Pupuk unsur hara Fosfor (P) yang merangsang pertumbuhan akar, khususnya akar benih dan tanaman muda. Fosfor berfungsi sebagai bahan pembentuk protein, membantu asimilasi serta mempercepat pembentukan bunga, pematangan biji dan buah. Sifat fosfat ini bereaksi dengan logam-logam berat, sehingga hanya 1/4 hingga 1/3 bagian dari fosfat yang dapat dimanfaatkan tanaman. Selebihnya membentuk endapan yang sulit larut dalam air (fiksasi). Proses ini menjadikan lapisan tanah mengeras, terutama lahan yang sudah berulang kali ditaburi fosfat. Efek keseluruhannya menyebabkan tertutupnya pori-pori tanah sehingga transportasi udara, air dan unsur hara tidak berjalan serta mikroba-mikroba yang bekerja menyuburkan tanah terancam punah. (Tan Kim Hong, 1982. Principles of Soil Chemistry. Marcel Dekker Inc. New York)

Rendahnya kadar sulfur (S) di dalam tanah disebabkan oleh penyerapan tanaman yang tinggi, rendahnya kadar sulfur di dalam pupuk yang selama ini dipakai oleh petani kelapa sawit dan rendahnya kemampuan tanah dalam menyediakan sulfur. Sulfur diperlukan dalam jumlah yang tinggi sesudah nitrogen karena kelapa sawit termasuk tanaman yang bijinya menghasilkan minyak (oil seed). Semua tanaman jenis ini memerlukan sulfur dalam jumlah yang banyak untuk pembentukan asam amino dalam menghasilkan protein nabati yang terkandung di dalam minyak sawit (Kamprath dan Till, 1983).

Pupuk yang dipakai oleh petani mengandung sulfur yang sangat rendah sehingga kontribusinya dalam menyediakan sulfur juga rendah. Sedangkan kadar sulfur di dalam tanah kering masam yang jauh dari lokasi industri termasuk sangat rendah-rendah (masih <250 ppm) karena sumbangan dari udara, dan air hujan rendah ( 60 mm/bulan. Pemupukan ditunda jika curah hujan kurang dari 60 mm per bulan.
2. Pupuk Dolomit dan Rock Phosphate diusahakan diaplikasikan lebih dulu untuk memperbaiki kemasaman tanah dan merangsang perakaran, diikuti oleh MOP (KCl) dan rea/Z A.
3. Jarak waktu penaburan Dolomit/Rock Phosphate dengan Urea/Z A minimal 2 minggu.
4. Seluruh pupuk agar diaplikasikan dalam waktu 2 (dua) bulan.

Frekwensi Pemupukan

1. Pemupukan dilakukan 2 – 3 kali tergantung pada kondisi lahan, jumlah pupuk, dan umur – kondisi tanaman.
2. Pemupukan pada tanah pasir dan gambut perlu dilakukan dengan frekwensi yang lebih banyak.
3. Frekwensi pemupukan yang tinggi mungkin baik bagi tanaman, namun tidak ekonomis dan mengganggu kegiatan kebun lainnya.

STANDARD DOSIS PEMUPUKAN TANAMAN BELUM MENGHASILKAN (TBM)  PADA TANAH GAMBUT

 

UMUR ( BULAN) DOSIS PUPUK ( gram/pohon)
UREA RP MOP(KCl) DOLOMIT HGF-B CuSO4
LUBANG TANAMAN - - - - - 25
3 100 150 200 100 - -
6 150 150 250 100 - -
9 150 200 250 150 25 -
12 200 300 300 150 - -
16 250 300 300 200 25 -
20 300 300 350 250 - -
24 350 300 350 300 50 -
28 350 450 450 350 50 -
32 450 450 500 350 - -

 

STANDARD DOSIS PEMUPUKAN TANAMAN BELUM MENGHASILKAN (TBM) PADA TANAH MINERAL

 

UMUR ( BULAN) *DOSIS PUPUK ( gram/pohon)
UREA RP MOP(KCl) DOLOMIT HGF-B CuSO4
LUBANG TANAMAN - - - - - 500
1 100 - - - - -
3 250 100 150 100 - -
5 250 100 150 100 - -
8 250 200 350 250 20 -
12 500 200 350 250 - -
16 500 200 500 500 30 -
20 500 200 500 500 - -
24 500 200 750 500 50 -
28 750 300 1000 750 - -
32 750 300 1000 750 - -

 

STANDARD DOSIS PEMUPUKAN TANAMAN MENGHASILKAN (TM) PADA TANAH GAMBUT

 

KELOMPOK UMUR DOSIS PUPUK (kg/pohon/tahun)
UREA RP MOP(KCl) DOLOMIT JUMLAH
3 tahun  s/d  8 tahun 2,00 1,75 1,50 1,50 6,75
9 tahun  s/d  13 tahun 2,50 2,75 2,25 2,00 9,50
14 tahun  s/d  20 tahun 1,50 2,25 2,00 2,00 7,75
21 tahun  s/d  25 tahun 1,50 1,50 1,25 1,50 5,75

 

STANDARD DOSIS PEMUPUKAN TANAMAN MENGHASILKAN (TM) PADA TANAH MINERAL

 

KELOMPOK UMUR DOSIS PUPUK (kg/pohon/tahun)
UREA SP-36 MOP(KCl) KISERIT JUMLAH
3 tahun  s/d  8 tahun 2,00 1,50 1,50 1,00 6,00
9 tahun  s/d  13 tahun 2,75 2,25 2,25 1,50 8,75
14 tahun  s/d  20 tahun 2,50 2,00 2,00 1,25 7,75
21 tahun  s/d  25 tahun 1,75 1,25 1,25 1,00 5,25

 

 

14 Desember 2011

GEJALA DEFISIENSI UNSUR HARA PADA TANAMAN KELAPA SAWIT

Tujuan dari pemupukan pada tanaman kelapa  sawit antara lain ; – untuk tanaman belum menghasilkan (TBM) adalah untuk meningkatan pertumbuhan vegetatif, sedangkan untuk tanaman menghasilkan (TM) diarahkan untuk produksi buah.

Aplikasi pemupukan yang tidak tepat (  jenis, dosis, waktu dan metode ) dapat menyebabkan tanaman kelapa sawit mengalami defisiensi unsur hara.

Peranan unsur hara,  Defisiensi unsur hara  dan perlakuan pada tanaman :

Unsur hara Nitrogen

  • Berperan sebagai penyusun protein, klorofil dan membantu proses fotosintesa.
  • kekurangan Nitrogen menyebabkan daun berwarna kuning pucat dan menghambat pertumbuhan.
  • Kelebihan Nitrogen menyebabkan daun lemah dan rentan terhadap penyakit/hama, kekahatan Boron, white stripe dan berkurangnya buah jadi.

Defisiensi N 

Penyebab :

  • Hara N yang tersedia dalam tanah sangat rendah
  • rendahnya pH tanah menyebabkan terhambatnya mineralisasi Nitrogen
  • Tanah dengan drainase jelek dan  akar dalam kondisi tidak berkembang
  • tumbunya Gulma di sekitar tanaman
  • aplikasi bahan organik dengan C/N tinggi,
  • pemupukan Nitrogen tidak efektif.

Perlakuan : Aplikasi pupuk secara merata di piringan dan pada saat kondisi tanah lembab, tambah Urea pada tanaman kelapa sawit, kendalikan gulma.

Unsur Hara P ( Phoshor )

  • berperan  untuk memperkuat batang dan merangsang perkembangan akar serta memperbaiki mutu buah.
  • kekurangan unsur hara P sangat sulit dikenali, menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, pelepah memendek dan batang meruncing

DEFISIENSI P (Phosphor)

Penyebab defisiensi P :

  • hara P tersedia pada  tanah rendah ( < 15 ppm),
  • Top soil ter-erosi,
  • kurangnya pupuk P
  •  keasaman tanah tinggi.

Perlakuan : Aplikasi Pupuk posphat di pinggir piringan, kurangi erosi, tingkatkan status P tanah dengan pemupukan  P dosis tinggi  (0.5-0.75 kg P2O5/pohon/tahun ( kira-kira 1-2 kg TSP atau SP36)

Unsur hara K ( Kalium )

  • Kalium berperan merangsang aktifitas stomata, aktifitas enzim dan sintesa minyak
  • meningkatkan ketahanan terhadap penyakit, meningkatkan produksi buah, meningkatkan jumlah dan ukuran tandan
  • kekurangan K menyebabkan bercak kuning/transparan, white stripe, daun tua kering dan mati.
  • kekurangan K dapat dikenali dengan munculnya penyakit seperti ganoderma.
  • Kelebihan K merangsang gejala kekurangan B ( Boron) sehingga rasio minyak terhadap tandan menurun ( rendemen rendah)

-DEFISIENSI K (Kalium)

Penyebab defisiensi K :
  • Kadar K tertukarkan ( K tukar kation /exchangeable) dalam tanah sangat rendah
  • hara K tersedia pada  tanah rendah akibat kurangnya pupuk Kalium (K2O)
  •  kemasaman tanah tinggi
Perlakuan : Aplikasi Pupuk K (KcL) dengan dosis yang cukup dapat memperbaiki kemampuan tukar kation tanah, Aplikasi Pupuk K pada pinggir piringan.
Unsur hara Mg ( Magnesium)
  • Penyusun klorofil, dan berperanan dalam respirasi tanaman maupun pengaktifan enzim.
  • kekurangan Mg menyebabkan daun tua berwarna hijau kekuningan pada sisi yang terkena sinar matahari, kuning kecoklatan lalu kering.
-DEFISIENSI Mg :
Penyebab defisiensi Mg  :
  • Rendahnya hara Mg tersedia pada  tanah rendah akibat kurangnya aplikasi Pupuk Mg (Magnesium / Kiserit)
  •  Ketidak seimbangan hara Mg dengan kation lain
  • Curah hujan yang tinggi (>3500 mm/tahun)
Perlakuan : Aplikasi Pupuk Mg dengan dosis yang cukup dapat memperbaiki tekstur tanah, Aplikasi Pupuk Mg secara merata pada pinggir piringan. perbandingan Ca/Mg dan Mg/K tanah agar tidak melebihi 5 dan 1,2. dan gunakan dolomit jika kemasaman
Unsur hara mikro / Boron
  • meristimatik tanaman , sintesa gula dan karbohidrat, metabolisme asam nukleat dan protein
  • kekurangan boron menyebabkan tanaman terserang penyakit Crown dieases, ujung daun tidak normal, rapuh dan berwarna hijau gelap, daun yang baru tumbuh memendek sehingga bagian atas tanaman terlihat merata, pelepah memendek, malformasi anak daun, daun mengkerut,.
-DEFISIENSI B :
Penyebab defisiensi Boron :
  • Rendahnya hara B tersedia pada  tanah
  •  tingginya aplikasi N , K dan Ca
Perlakuan : Aplikasi Boron 0,1-0,2 kg/pohon/tahun pada pangkal batang atau pada ketiak daun/pelepah.
Unsur hara mikro / Cu
  • Cu berperan dalam pembentukan klorofil dan katalisator proses fisiologi tanaman
  • kekurangan Cu Mild Crown Clorosis atau Peat yellow, jaringang klorosis hijau pucat, kekuningan muncul ditengah anak daun muda, bercak kuning berkembang diantara jaringan klorosis , daun pendek, kuning pucat kemudian mati
-DEFISIENSI Cu :
Penyebab defisiensi Cu :
  • Rendahnya hara Cu dalam tanah gambut atau pasir
  •  tingginya aplikasi Mg , aplikasi N dan P tanpa K yang cukup.
Perlakuan : Perbaiki rendahnya K tanah, basahi tajuk dengan 200 ppm Cu SO4.
14 Desember 2011

Kebutuhan Hara tanaman Kelapa Sawit ( Elaeis Guineensis Jacq)

Budidaya tanaman kelapa sawit (Elaeis Guineensis Jacq) oleh pemerintah, swasta dan masyarakat sangat besar dengan melihat tingginya keuntungan yang diperoleh dari usaha ini. Indonesia sebagai negara pengexport minyak kelapa sawit mampu memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri.

Prospek komoditas kelapa sawit semakin cerah sejak diketahui bahwa minyak kelapa sawit dapat menggantikan minyak diesel sebagai bahan bakar mesin diesel.

Tanaman dengan produksi biomas serta minyak yang tinggi ini memerlukan pemupukan yang cukup intensif. Pada tanaman yang telah menghasilkan (TM) dosis pupuk yang diaplikasikan berkisar antara 2-3kg urea, 1,5-2kg RP atau SP36 dan MOP untuk setiap pokok / tahun. disamping itu juga ditambahkan pupuk kieserit untuk memenuhi kebutuhan unsur Mg dan pupuk Boron.

Biaya pemupukan untuk tanaman kelapa sawit ini rata-rata 40-60% dari Biaya Pemeliharaan Tanaman atau sekitar 15-20% dari Total Biaya Produksi kelapa sawit. (Yahya 1990)

Tanaman kelapa sawit sangat responsif terhadap pemupukan sehingga kurangnya unsur hara seperti N, P, K, Mg dan B akan menimbulkan gejala defisiensi yang spesifik disamping turunnya pertumbuhan dan hasil tanaman kelapa sawit.

Kalium dan magnesium adalah unsur penting untuk sebagai nutrisi kelapa sawit

Tanaman kelapa sawit sangat memerlukan kecukupan unsur hara untuk memacu pertumbuhan organ vegetatif maupun perkembangan organ reproduktifnya.

Siklus pertumbuhan kelapa sawit yang berlangsung selama 25 tahun ditandai oleh berbagai tahap pertumbuhan dimana setiap tahap memiliki kebutuhan haranya tersendiri untuk pertumbuhannya.

Fungsi dan peranan unsur hara N, P dan K pada tanaman kelapa sawit antara lain :

Unsur “N” bagi tanaman sangat penting karena berfungsi sebagai penyusun Nukleotida, asam amino dan protein asam nukleat dan khlorofil daun.

Disamping itu unsur “P” juga sangat penting bagi tanaman karena memiliki fungsi utama sebagai penyimpan dan transfer energy dan sebagai penyusun dinding sel

Unsur “K” pada tanaman berfungsi mendorong aktifitas enzim, mentranspirasikan air lebih banyak dalam arti meningkatkan serapan hara, meningkatkan metabolisme dan transportasi asimilat sehingga pengisian sink dari source berjalan lebih cepat (Havlin et al, 1999)

Jadi budidaya tanaman kelapa sawit ini betul-betul akan mendapatkan keuntungan seperti yang diharapkan jika masyarakat melakukan pemupukan dengan cara dan ketentuan yang dianjurkan yang telah disesuaikan dengan kebutuhan tanaman kelapa sawit tersebut, itu semua disebabkan tanaman kelapa sawit memerlukan pemupukan yang intensif dan tanaman kelapa sawit ini juga sangat responsif terhadap pemupukan yang berujung pada tingginya tingkat produksi hasil tanaman kelapa sawit itu sendiri.

8 Juni 2012

PERAN NITROGEN PADA TANAMAN

PERAN NITROGEN PADA TANAMAN.

5 Mei 2012

JUAL COOPER SULPHATE / COOPER SULFAT / CuSO4

COOPER SULPHATE / COOPER SULFAT / CuSO4

KAMI MENJUAL COOPER SULPHATE / CuSO4 UNTUK BERBAGAI KEBUTUHAN INDUSTRI DAN PERKEBUNAN.

SPESIFIKASI :
Nama : Cooper sulphate /CuSO4
Warna : Biru
Bentuk : BUTIRAN
Kemasan: 1 Sak @ 25 Kg
Harga NEGO
Jumlah SESUAI PERMINTAAN
Kemasan  karung plastik @ 25 kG/sak
Negara Asal EX. CHINA
Tag:
5 Mei 2012

Jual KALSIUM

KALSIUM

Kalsium adalah unsur hara sekunder yang memilik peranan penting dalam pertumbuhan tanaman, seperti; Mendorong pembentukan dan pertumbuhan akar lebih dini, membantu menetralkan asam organik yang bersifat meracuni, memperbaiki ketegaran dan kekahatan tanaman, membantu transformasi air dan unsur hara lain.

Spesifikasi Kalsium :

Kandungan: Kalsium ( Ca )
Bentuk : Powder Serbuk
Kehalusan : 300 Mesh dan 400 Mesh
Warna : Putih
Kemasan : Karung Plastik 50 Kg
Produksi : Medan – Sumatera Utara

Harga: Nego
Cara Pembayaran: Tunai
Jumlah: 50kg/sak
Kemas & Pengiriman: Karung Plastik
Negara Asal: Indonesia
10 Maret 2012

JENIS-JENIS KLON / BIBIT KARET UNGGUL

Seiring dengan perkembangan penelitian dan pengembangan tanaman karet khususnya bidang pemuliaan tanaman, maka telah diciptakan banyak klon yang tujuannnya adalah untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Perlu dipahami bahwa tidak ada klon yang sesuai untuk semua lokasi, setiap klon dirakit dari tetua mereka yang memiliki sifat unggul di satu lokasi namun kurang optimal di lokasi lainnya, dengan kata lain: satu klon akan tumbuh dan berproduksi optimal pada agroekosistem yang sesuai dengan sifat-sifatnya.

Pusat Penelitian Karet telah mengidentifikasi klon-klon menurut potensinya. Pengelompokan ini berdasarkan potensi lateks yang dapat dihasilkan dan juga potensi kayu bila ditebang nanti. Jenis-jenis klon yang dimaksud adalah:
1. Klon Penghasil lateks
2. Klon Penghasil Lateks-Kayu
3. klon Penghasil Kayu
Dengan adanya pengelompokan klon tersebut, pengguna/pekebun dapat memilih jenis klon sesuai tujuannya

A. Klon Penghasil Lateks

Klon-klon yang tergolong dalam kelompok ini memiliki potensi hasil lateks tinggi sampai sangat tinggi, sedangkan potensi kayunya kecil sampai sedang. Klon-klon ini sangat cocok ditanam jika tujuannya adalah untuk mendapatkan produksi lateks yang tinggi, biasa digunakan oleh perusahaan-perusahan besar yang beorientasi pada hasil lateks untuk keperluan pabriknya. contoh klon-klon dalam golongan ini adalah: BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217, PB 260.

B. Klon Penghasil Lateks-Kayu

Kelompok ini dicirikan dengan potensi hasil lateks yang sedang sampai tinggi dan hasil kayunya juga tinggi. Klon-klon jenis ini sangat dianjurkan untuk petani karena selain untuk mendaptkan produksi lateks yang tinggi juga dapat diambil kayunya untuk biaya peremajaan. Perusahaan-perusahaan yang mengembangkan perkebunan karet berbasis HTI atau Hutan Tanaman Rakyat juga sangat tertarik dengan klon-klon ini, beberapa contoh klon yang tergolong dalam kelompok ini adalah: AVROS 2037, BPM 1, RRIC 100, PB 330, PB 340, IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 112, IRR 118.

C. Klon Penghasil Kayu

Ciri dari kelompok ini adalah potensi kayunya yang sangat tinggi sedangkan potensi lateksnya rendah. Biasanya klon-klon jenis ini tumbuh tinggi-besar sehingga potensi kayunya sangat tinggi. Klon-klon ini bisa menjadi pilihan jika tujuan penanamannya untuk penghijauan dan untuk diambil kayunya. Contohnya adalah: IRR 70, IRR 71, IRR 72, IRR 78.

9 Maret 2012

BUDI DAYA TANAMAN KARET

TANAMAN KARET

Karet mempunyai arti penting dalam aspek kehidupan sosial ekonomi masyarakat indonesia, yaitu: salah satu komoditi penghasil devisa negara, tempat persediaanya lapangan kerja bagi penduduk, dan sumber penghasilan bagi petani karet.

1. Syarat-syarat Tumbuh Tanaman Karet

Tanah:

- Tanah harus gembur

- Kedalaman antara 1-2 meter

- Tidak bercadas

- PH tanah 3,5 – 7,0

- Ketinggian tempat anatara 0 – 400 meter, paling baik pada ketinggian 0 – 200 meter, setiap kenaikan 200 meter matang sadap terlambat 6 bulan.

Iklim:

- Curah hujan minimum 1.500 mm pertahun, jumlah hari hujan 100 – 150 hari, curah hujan optimum 2.500 – 4.000 mm.

- Hujan selain bermanfaat bagi pertumbuhan karet, ada hubungannya dengan pemungutan hasil, terutama jumlah hari hujan sering turun pada pagi hari.

- Unsur angin berpengaruh terhadap kerusakan tanaman akibat angin kencang, kelembaban sekitar tanaman, dan produksi akan berkurang.

2. Persiapan Lahan Tanaman Karet

A. Pengolahan Lahan
1. Penebangan dan pembakaran pohon yang ada pada lahan.
2. Penyacaran lahan dari rumput yang ada.
3. Pembajakan dengan traktor atau penggarpuan/pencangkulan dilakukan 3 kali, dengan tenggang waktu 1 bula, setelah pembajakan ke 3 lahan dibiarkan 2 minggu baru digaru.

B. Pencegahan Erosi

1. Pembuatan teras, baik teras individu maupun teras bersambung di sesuaikan dengan kemiringan lahan.
2. Pembuatan parit dan rorak, parit dibuat sejajar dengan lereng, saluran drainase memotong lereng dan rorak dibuat diantara barisan.
3. Pengajiran, untuk menentukan letak tanaman dan meluruskan dalam barisan dengan cara sebagai berikut :
– Tentukan arah Timur-Barat (TB) atau Utara-Selatan (US).
– Ukur pada TB jarak 6 meter atau 7 meter dan 3 meter dari arah US.
4. Penanaman penutup tanah, kegunaaanya : melindungi tanah dari sinar matahari langsung, erosi, menekan pertumbuhan gulma, dan sebagai media hidup cacing.

3. Penanaman Tanaman Karet

1. Pembuatan lubang tanam dan pengajiran kedua.

2. Lubang tanam untuk tanah ringan 45X45X30 Cm, untuk tanah berat 60 X 60 X 40 Cm.

3. Lubang dibiarkan satu bulan atau lebih.

4. Jenis penutup tanah; Puecaria Javanica, Colopogonium moconoides dan centrosema fubercens,penanaman dapat diatur atau ditugal setelah tanah diolah dan di bersihkan, jumlah bibit yang ditanam 15 – 20 Kg/Ha dengan perbandingan 1 : 5 : 4 antara Pueraria Javanoica : Colopoganium moconoides dan cetrosema fubercens

5. Penanaman ; bibit ditanam pada lubang tanah yang telah dsiberi tanda dan ditekan sehingga leher akan tetap sejajar dengan permukaan tanah, tanah sekeliling bibit diinjak-injak sampai padat sehingga bibit tidak goyang, untuk stump mata tidur mata menghadap ke sekatan atau di sesuaikan dengan arah angin.

4. Pemeliharaan Tanaman Karet

1. Penyulaman

- Bibit yang baru ditanam selama tiga bulan pertama setelah tanam diamati terus menerus.

- Tanaman yang mati segera diganti.

- Klon tanaman untuk penyulaman harus sama.

- Penyulaman dilakukan sampai unsur 2 tahun.

- Penyulaman setelah itu dapat berkurang atau terlambat pertumbuhannya.

2. Pemotongan Tunas Palsu

Tunas palsu dibuang selama 2 bulan pertama dengan rotasi 1 kali 2 minggu, sedangkan tunas liar dibuang sampai tanaman mencapai ketinggian 1,80 meter.

3. Merangsang Percabangan

Bila tanaman 2 – 3 tahun dengan tinggi 3,5 meter belum mempunyai cabang perlu diadakan perangsangan dengan cara :

- Pengeringan batang (ring out)

- Pembungkusan pucuk daun (leaf felding)

- Penanggalan (tapping)

4. Pemupukan

Pemupukan dilakukan 2 kali setahun yaitu menjelang musim hujan dan akhir musim kemarau, sebelumnya tanaman dibersihkan dulu dari rerumputan dibuat larikan melingkar selama – 10 Cm. Pemupukan pertama kurang lebih 10 Cm dari pohon dan semakin besar disesuaikan dengan lingkaran tajuk.

Program dan dosis pemupukan tanaman karet secara umum dapat dilihat pada tabel berikut :

5. Tumpangsari/Tanaman sela/intercroping

Syarat-syarat pelaksanaan tumpangsari :

- Topografi tanah maksimum 11 (8%)

- Pengusahaan tanaman sela diantara umur tanaman karet 0 – 2 tahun.

- Jarak tanam karet sistem larikan 7 X 3 meter atu 6 X 4 meter.

- Tanaman sela harus di pupuk.

- Setelah tanaman sela dipanen segera diusahakan tanaman penutup tanah.

5. Teknik Perlindungan Tanaman Karet

a. Hama Tanaman Karet

Hama adalah perusak tanamam yang berupa hewan seperti serangga, tungga, mamalia dan nematoda. Beberapa jenis yang cukup merugikan yaitu:

1. Kutu Lak (Laccifer)

Ciri-ciri :

- Menyerang tanaman karet dibawah 6 tahun.

- Kutu berwarna jingga kemerahan dan terbungkus lapisan lak.

- Mengeluarkan cairan madu, membuat jelaga hitam dan bercak pada tempat serangan.

- Bagian yang diserang ranting dan daun lalu cairannya dihisap sehingga bagian tanaman yang terserang kering.

- Penyebaran kutu lak dibantu semut gramang.

Pengendalian :

- Lakukan pengawasan sedini mungkin.

- Bila serangan ringan lakukan pengendalian secara mekanais, Fisik dan Biologis

- Bila serangan berat, dengan Insektisida Albocinium 2% dan formalin 0,15% ditambah Surfaktan Citrowet 0,025%, penyemprotan interval 3 mg.

2. Pscudococcus Citri

Ciri-ciri :

- Stadia yang merusak adalah nympha dan imago berwarna kuning muda

- Meyerang tanaman yang masih muda seperti ranting dan tangkai daun.

Pengendalian :

- Bila serangan berat bisa menggunakan Insektisida jenis metamidofos dilarutkan dalam air dengan konsentrasi 0,05%-0,1%

- Interval penyemprotan 1-2 mg

b. Penyakit Tanaman Karet

1. Penyakit Embun Tepung

Penyebab: Cendawan Oidium heveae

Gejala: Menyerang daun muda lalu berbintik putih dan merangas . Umumnya menyerang setelah musim gugur daun.

Pengendalian: pemeliharaan yang intensif, penyelarasan beban sadapan Secara kimiawi dengan belerang circus dosis 3 – 5 Kg/Ha interval 3 – 5 hari.

2. Penyakit Daun Colletotrichum

Penyebab: Colletotrichum gloeosporioides

Gejala: Daun muda cacat dan gugur, pucuk gundul daun bercak coklat, ditengah bercak berwarna putih bintik hitam (spora)

Pengendalian: Dengan Fungisida

3. Penyakit Kanker garis

Penyebab: Phytophthora palmivora butl

Gejala: Bidang sadapan terdapat garis vertikal berwarna hitam dan bisa masuk sampai kebagian kayu dan kulit membusuk. Banyak timbul dimusim penghujan dan kebun yang terlampau lembab Makin rendah irisan, kemungkinan infeksi makin besar.

Pengendalian: Secara mekanis penjarangan pemangkasan pelindung, penanaman penutup tanah. Secara Kimiawi dengan Fungisida (B.a. Kaptofol)

4. Penyakit Jamur Upas

Penyebab: Cortisium salmonicolor

Gejala: Tajuk pada dahan / cabang akan layu sehingga tanaman  lemah dan produksi turun.

Pengendalian: Secara kimiawi luka akibat serangan dilumas dengan fungisida bahan aktif tridermof (Calizin Rm 2%).

5. Penyakit Bidang Sadapan

Penyebab: Ceratocystis Fimbriata

Gejala: Menerang kulit bidang sadapan yaitu timbul selaput benang berwarna putih kelabu lalu. Penyebaran melalui spora spora dan pisau sadap.

Pengendalian: Secara mekanis dengan mengurangi kelembaban. Secara kimiawi dengan Fungisida bahan aktif benomil dan Kaptofol.

6. Penyakit Cendawan Akar putih

Penyebab: Cendawan Fomes Lignosus

Gejala: Daun kusam, menguning, layu dan akhirnya gugur Tanaman bila dibongkar pada akar terdapat cendawan berwarna putih kekuningan.

Pengendalian: Secara mekanis saat pembukaan lahan tunggul dan akar harus dibongkar Penanaman 1-2 tahun setelah pembongkaran. Tanaman sakit dibongkar lalu dibakar. Secara kimiawi akar yang terserang dipotong lalu diolesi fungisida.

6. Panen dan Pasca Panen Tanaman Karet

Tanda-tanda kebun mulai disadap :

Umur tanaman karet rata-rata 6 tahun atau 55% dari areal 1 hektar sudah mencapai lingkjar batang 45 Cm sampai dengan 50 Cm. Disadap berselang 1 hari atau 2 hari setengah lingkar batang, denga sistem sadapan/rumus S2-D2 atau S2-D3

Pengolahan lateks sebagai berikut :
– Standar karet kebun diturunkan dari rata-rata 32% menjadi 16% dengan jalan memberi air yang bening atau yang bersih.
– ,Kemudian dicampur dengancuka/setiap 1 Kg karet kering 350 s/d 375 Cc larutan 1% cuka.
– Dibiarkan sampai beku.
– Kemudian digiling dalam gilingan polos dan kembang, kemudian direndam rata-rata 60 menit.
– Disadap selama 1 minggu

- Kemudian dihasilkan dalam bentuk RSS I, II, III dan IV of sheet.

29 Desember 2011

Pupuk NPK PRO GREEN ( NPK+ACTIVATOR )

Pupuk  PRO GREEN (NPK+ACTIVATOR)  

Pupuk PRO GREEN
 ( NPK+ACTIVATOR )   adalah pupuk majemuk  NPK yang di formulasikan dengan activator yang
mengandung tiga unsur hara utama yang dibutuhkan tanaman yaitu Nitrogen(N), Posfat (P) dan Kalium (K) dengan formula activator yang mengandung   unsur hara mikro dimana diantaranya terdapat unsur esensial untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif yang sangat dibutuhkan tanaman. ( Ca, Mg, S, Mn, Fe, Cu, Zn, B, Mo , Na )
Pupuk NPK+ACTIVATOR PRO GREEN  berperan menjaga ketersediaan unsur hara yang diberikan kepada tanaman sebagai pupuk mineral serta menghambat fiksasi unsur hara oleh konstituen tanah selama masa pertumbuhan. Hambatan terhadap fiksasi tersebut berupa pemanfaatan secara efektif dan efisien setiap unsur hara yang diberikan ke tanaman.
Formulasi Activator yang bekerja secara slow release yang mampu melepas unsur hara secara lepas lambat dengan volume pelepasan mendekati kapasitas akar tanaman dalam menyerap unsur hara, tetapi berlangsung dalam waktu yang lebih lama sehingga mengurangi kehilangan unsur ke lingkungan, berkaitan dengan efisiensi pemupukan yang semakin meningkat serta menurunnya kehilangan pupuk melalui penguapan, erosi, aliran permukaan dan pencucian.
KEUNGGULAN PUPUK NPK+ACTIVATOR PRO GREEN:

  • Menghemat penggunaan pupuk konvensional
  • Mempercepat tanaman menghasilkan
  • Meningkatkan hasil panen / produksi (kuantitas dan kualitas)
  • Memperkuat daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit
  • Tahan terhadap musim kemarau yang panjang
  • Memperpanjang usia produktif tanaman

Spesifikasi Pupuk NPK+ACTIVATOR :
- N          = 10 %
- P2O5 =   8 %
- K2O    =  15%
+ Ca, Mg, S, Mn, Fe, Cu, Zn, B, Mo, Na
23 Desember 2011

BUDI DAYA TANAMAN KELAPA SAWIT

Persyaratan tumbuh tanaman kelapa sawit

Daerah pengembangan tanaman kelapa sawit yang sesuai berada pada 15 °LU-15 °LS. Ketinggian pertanaman kelapa sawit yang ideal berkisar antara 1-500 m dpl. Lama penyinaran matahari rata-rata 5-7 jam/hari. Curah hujan tahunan 1.500-4.000 mm. Temperatur optimal 24-280C. Kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan. Kelembaban optimum yang ideal sekitar 80-90 %. Kelapa sawit dapat tumbuh pada jenis tanah Podzolik, Latosol, Hidromorfik Kelabu, Alluvial atau Regosol. Nilai pH yang optimum adalah 5,0–5,5. Kelapa sawit menghendaki tanah yang gembur, subur, datar, berdrainase baik dan memiliki lapisan solum yang dalam tanpa lapisan padas. Kondisi topografi pertanaman kelapa sawit sebaiknya tidak lebih dari 15o.

     

Penyediaan benih

1) Diperoleh Sumber Benih Kelapa Sawit

Sumber benih yang baik dapat diperoleh dari balai-balai penelitian kelapa sawit, terutama oleh Marihat Research Station dan Balai Penelitian Perkebunan Medan (RISPA). Dalam penyediaan benih kelapa sawit, balai-balai penelitian tersebut mempunyai kebun induk yang baik dan terjamin dengan pohon induk tipe Delidura dan pohon bapak tipe Pisifera terpilih.

2) Penyediaan benih sendiri

Untuk memperoleh buah / benih yang baik, penyerbukan yang terjadi pada bunga betina dari pohon induk harus dilakukan secara terkontrol. Untuk maksud tersebut, penyerbukan harus dilaksanakan secara buatan. Dalam penyerbukan secara buatan, pohon induk untuk bunga betina yang digunakan adalah tipe Dura atau Delidura terpilih seperti terdapat di Marihat research Station, sedangkan sebagai pohon induk bunga jantan digunakan tipe Pisifera yang juga tersedia di Marihat Research Station. Penyerbukan buatan diawali dengan penyediaan serbuk sari. Beberapa saat sebelum bunga matang, bunga jantan dari pohon induk terpilih dibungkus dengan kantung plastik transparan. Setelah bunga jantan tersebut matang, lalu dipotong dan dibawa ke laboratorium untuk dipisahkan dari tandannya, kemudian diangin-anginkan. Serbuk sari ini dimasukkan ke dalam tube dengan mencampurkan 0,25 gram serbuk sari dengan 1 gram talk. Tube yang telah berisi serbuk sari dimasukkan ke dalam sebuah botol kemudian divakumkan. Sambil menunggu saat penggunaannya botol serbuk sari harus disimpan di dalam almari pendingin (freezer). Pada pohon induk untuk bunga betina terpilih, tandan bunga betina ditutup dengan kantung plastik transparan dan diberi label. Amati bunga sampai mencapai tingkat matang reseptif. Ciri-ciri bunga betina yang telah matang adalah : warna kepala putik menjadi kemerah-merahan dan telah terbuka dan berlendir. Setelah bunga betina reseptif, serbukilah dengan serbuk sari yang telah disiapkan. Satu tube campuran serbuk sari (0,25 gram serbuk sari + 1 gram talk) cukup untuk menyerbuki satu tandan bunga betina. Bunga betina yang telah diserbuki diberi label dan ditutup dengan plastik transparan. Empat hari kemudian penutup dibuka dan tandan bunga betina dibiarkan untuk pertumbuhannya lebih lanjut. Setelah 6 bulan, tandan buah umumnya telah masak. Panen buah dan benih dilakukan bila pada satu tandan telah terdapat paling sedikit satu buah telah lepas dari tandannya.

Pengecambahan benih kelapa sawit

1) Tangkai tandan buah dilepaskan dari spikeletnya.

2) Tandan buah diperam selama tiga hari dan sekali-kali disiram air. Pisahkan buah dari tandannya dan peram lagi selama 3 hari.

3) Masukkan buah ke mesin pengaduk untuk memisahkan daging buah dari biji. Cuci biji dengan air dan masukkan ke dalam larutan Dithane M-45 0,2% selama 3 menit. Keringanginkan dan seleksi untuk memberoleh biji yang berukuran seragam. Semua benih disimpan di dalam ruangan bersuhu 22 derajat C dan kelembaban 60-70% sebelum dikecambahkan.

4) Untuk mengecambahkan benih, dilakukan perendaman terlebih dahulu. Benih direndam dalam ember berisi air bersih selama 5 hari dan setiap hari air harus diganti dengan air yang baru.

5) Setelah benih direndam, benih diangkat dan dikering anginkan di tempat teduh selama 24 jam dengan menghamparkannya setebal satu lapis biji saja. Kadar air dalam biji harus diusahakan agar tetap sebesar 17 %.

6) Selanjutnya benih disimpan di dalam kantong plastik berukuran panjang 65 cm yang dapat memuat sekitar 500 sampai 700 benih. Kantong plastik ditutup rapat-rapat dengan melipat ujungnya dan merekatnya. Simpanlah kantong-kantong plastik tersebut dalam peti berukuran 30 x 20 x 10 cm, kemudian letakkan dalam ruang pengecambahan yang suhunya 39 0C.

7) Benih diperiksa setiap 3 hari sekali ( 2 kali per minggu ) dengan membuka kantong plastiknya dan semprotlah dengan air (gunakan hand mist sprayer) agar kelembaban sesuai dengan yang diperlukan yaitu antara 21 – 22 % untuk benih Dura dan 28 – 30 % untuk Tenera.

8) Setelah melewati masa 80 hari, keluarkan kantong dari peti di ruang pengecambahan dan letakkan di tempat yang dingin. Kandungan air harus diusahakan tetap seperti semula. Dalam beberapa hari benih akan mengeluarkan tunas kecambahnya. Selama 15 – 20 hari kemudian sebagian besar benih telah berkecambah dan siap dipindahkan ke pesemaian perkecambahan (prenursery ataupun nursery). Benih yang tidak berkecambah dalam waktu tersebut di atas sebaiknya tidak digunakan untuk bibit.

Pembibitan Kelapa Sawit

Lokasi/areal untuk pelaksanaan pembibitan dengan pesyaratan : harus datar dan rata, dekat dengan sumber air, dan letaknya sedapat mungkin di tengah-tengah areal yang akan ditanami dan mudah diawasi. Lahan pembibitan harus diratakan dan dibersihkan dari segala macam gulma dan dilengkapi dengan instalasi penyiraman (misalnya tersedia springkle irrigation), serta dilengkapi dengan jalan-jalan dan parit-parit drainase. Luas kompleks pembibitan harus sesuai dengan kebutuhan.

Terdapat dua teknik pembibitan yaitu: (a) cara langsung tanpa dederan dan (b) cara tak langsung dengan 2 tahap (double stages system), yaitu melalui dederan/pembibitan awal (prenursery) selama 3 bulan dan pembibitan utama(nursery)selama 9 bulan.

a) Cara langsung

Kecambah langsung ditanam di dalam polibag ukuran besar seperti pada cara pembibitan. Cara ini menghemat tenaga dan biaya.

(b) Cara tak langsung

Cara tak langsung dilakukan dengan 2 tahap (double stages system), yaitu melalui dederan/pembibitan awal (prenursery) selama 3 bulan dan persemaian bibit(nursery)selama 9 bulan.

Tahap pendederan (prenursery)

Benih yang sudah berkecambah di deder dalam polybag kecil, kemudia diletakkan pada bedengan-bedengan yang lebarnya 120 cm dan panjang bedengan secukupnya.

Ukuran polybag yng digunakan adalah 12 x 23 cm atau 15 x 23 cm (lay flat).

Polybag diisi dengan 1,5 – 2,0 kg tanah atas yang telah diayak. Tiap polybag diberi lubang untuk drainase.

Kecambah ditanam sedalam ± 2 cm dari permukaan tanah dan berjarak 2 cm.

Setelah bibit dederan yang berada di prenursery telah berumur 3 – 4 bulan dan berdaun 4 – 5 helai, bibit dederan sudah dapat dipindahkan ke pesemaian bibit (nursery).

Keadaan tanah di polybag harus selalu dijaga agar tetap lembab tapi tidak becek. Pemberian air pada lapisan atas tanah polybag dapt menjaga kelembaban yang dibutuhkan oleh bibit.

Penyiraman dengan sistem springkel irrigation sangat membantu dalam usaha memperoleh kelembaban yang diinginkan dan dapat melindungi bibit terhadap kerusakan karena siraman.

Pesemaian bibit (nursery)

Untuk penanaman bibit pindahan dari dederan dibutuhkan polybag yang lebih besar, berukuran 40 cm x 50 cm atau 45 cm x 60 cm (lay flat), tebal 0,11 mm dan diberi lubang pada bagian bawahnya untuk drainase.

Polybag diisi dengan tanah atas yang telah diayak sebanyak 15 – 30 kg per polybag, disesuaikan dengan lamanya bibit yang akan dipelihara (sebelum dipindahkan) dipesemaian bibit.

Bibit dederan ditanam sedemikian rupa sehingga leher akar berada pada permukaan tanah polybag besar dan tanahsekitar bibit dipadatkan agar bibit berdiri tegak. Bibit pada polybag besar kemudian disusun di atas lahan yang telah diratakan, dibersihkan dan diatur dengan hubungan sistem segitiga sama sisi dengan jarak misalnya 100 cm x 100 cm x 100 cm.

Kegiatan pemeliharaan bibit Kelapa Sawit di pembibitan

1) Penyiraman; kegiatan penyiraman di pembibitan utama dilakukan dua kali dalam sehari, yaitu pada pagi dan sore hari. Jumlah air yang diperlukan sekitar 9–18 liter per minggu untuk setiap bibit.

2) Pemupukan; untuk pemupukan dapat digunakan berupa pupuk tunggal atau pupuk majemuk (N,P,K dan Mg) dengan komposisi 15:15:6:4 atau 12:12:7:2.

3) Seleksi bibit; seleksi dilakukan sebanyak tiga kali. Seleksi pertama dilakukan pada waktu pemindahan bibit ke pembibitan utama. Seleksi kedua dilakukan setelah bibit berumur empat bulan di pembibitan utama. Seleksi terakhir dilakukan sebelum bibit dipindahkan ke lapangan. Bibit dapat dipindahkan ke lapangan setelah berumur 12-14 bulan. Tanaman yang bentuknya abnormal dibuang, dengan ciri-ciri: a) bibit tumbuh meninggi dan kaku, b) bibit terkulai, c) anak daun tidak membelah sempurna, d) terkena penyakit, e) anak daun tidak sempurna.

Penanaman Kelapa Sawit

1) Persiapan lahan

Tanaman kelapa sawit sering ditanam pada areal / lahan : bekas hutan (bukaan baru, new planting), bekas perkebunan karet atau lainnya ( konversi), bekas tanaman kelapa sawit (bukaan ulangan, replanting).

Pembukaan lahan secara mekanis pada areal bukaan baru dan konversi terdiri dari beberapa pekerjaan, yakni: a) menumbang, yaitu memotong pohon besar dan kecil dengan mengusahakan agar tanahnya terlepas dari tanah; b) merumpuk, yaitu mengumpulkan dan menumpuk hasil tebangan untuk memudahkan pembakaran. c) merencek dan membakar, yaitu memotong dahan dan ranting kayu yang telah ditumpuk agar dapat disusun sepadat mungkin, setelah kering lalu dibakar. d) pengolahan tanah secara mekanis.

Pembukaan lahan secara mekanis pada tanah bukaan ulangan terdiri dari pekerjaan, yakni: a) pengolahan tanah secara mekanis dengan menggunakan traktor. b) meracun batang pokok kelapa sawit dengan cara membuat lubang sedalam 20 cm pada ketinggian 1 meter pada pokok tua. Lubang diisi dengan Natrium arsenit 20 cc per pokok, kemudian ditutup dengan bekas potongan lubang; c) membongkar, memotong dan membakar. Dua minggu setelah peracunan, batang pokok kelapa sawit dibongkar sampai akarnya dan swetelah kering lalu dibakar; d) pada bukaan ulangan pembersihan bekas-bekas batang harus diperhatikan dengan serius karena sisa batang, akar dan pelepah daun dapat menjadi tempat berkembangnya hama (misalnya kumbang Oryctes) atau penyakit ( misalnya cendawan Ganoderma).

2) Pengajiran ( memancang)

Maksud pengajiran adalah untuk menentukan tempat yang akan ditanami kelapa sawit sesuai dengann jarak tanam yang dipakai. Ajir harus tepat letaknya, sehingga lurus bila dilihat dari segala arah, kecuali di daerah teras dan kontur. System jarak yang digunakan adalah segitiga sama sisi, dengan jarak 9 m x 9 m x 9 m. Dengan system segi tiga sama sisi ini, pada arah Utara – Selatan tanaman berjarak 8,82 m dan jarak untuk setiap tanaman adalah 9 m. Populasi (kerapatan) tanaman per hektar adalah 143 pohon.

3) Pembuatan lubang tanaman

Lubang tanaman dibuat beberapa hari sebelum menanam. Ukuran lubang, panjang x lebar x dalam adalah 50 cm x 40 cm x 40 cm. Pada waktu menggali lubang, tanah atas dan bawah dipisahkan, masing-masing di sebelah Utara dan Selatan lubang.

4) Menanam

Cara menanam bibit yang ada pada polybag, yaitu:

- Sediakan bibit yang berasal dari main nursery pada masing-masing lubang tanam yang sudah dibuat.

- Siramlah bibit yang ada pada polybag sehari sebelum ditanam agar kelembaban tanah dan persediaan air cukup untuk bibit.

- Sebelum penanaman dilakukan pupuklah dasar lubang dengan menaburkan secara merata pupuk fosfat seperti  Rock Phosphate sebanyak 250 gram per lubang.

- Buatlah keratin vertical pada sisi polybag dan lepaskan polybag dari bibit dengan hati-hati, kemudian masukkan ke dalam lubang.

- Timbunlah bibit dengan tanah galian bagian atas (top soil) dengan memasukkan tanah ke sekeliling bibit secara berangsur-angsur dan padatkan dengan tangan agar bibit dapat berdiri tegak.

- Penanaman bibit harus diatur sedemikian rupa sehingga permukaan tanah polybag sama ratanya dengan permukaan lubang yang selesai ditimbun, dengan demikian bila hujan, lubang tidak akan tergenang air.

- Pemberian mulsa sekitar tempat tanam bibit sangat dianjurkan.

- Saat menanam yang tepat adalah pada awal musim hujan.

Pemeliharaan tanaman kelapa sawit

a. Penyulaman

- Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang mati atau tumbuh kurang baik.

- Saat menyulam yang baik adalah pada musim hujan.

- Bibit yang digunakan harus seumur dengan tanaman yang disulam yaitu bibit berumur 10 – 14 bulan.

- Banyaknya sulaman biasanya sekitar 3 – 5 % setiap hektarnya.

- Cara melaksanakan penyulaman sama dengan cara menanam bibit.

b. Penanaman tanaman penutup tanah

- Tanaman penutup tanah (tanaman kacangan, Legume Cover Crop atau LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi dan mempertahankan kelembaban tanah, menekan pertumbuhan gulma.

- Penanaman tanaman kacangan sebaiknya dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai.

- Jenis-jenis tanaman kacangan yang umum di perkebunan kelapa sawit adalh Centrosema pubescens, Colopogonium mucunoides dan Pueraria javanica.

- Biasanya penanaman tanaman kacangan ini dilakukan tercampur (tidak hanya satu jenis).

c. Membentuk piringan (bokoran, circle weeding)

- Piringan di sekitar pokok (pohon kelapa sawit) harus tetap bersih. Oleh karena itu tanah di sekitar pokok dengan jari-jari 1 – 2 meter dari pokok harus selalu bersih dan gulma yang tumbuh harus dibabat, disemprot dengan herbisida.

d. Pemupukan

- Jenis pupuk yang diberikan adalah pupuk N,P,K,Mg dan B (Urea, TSP, Kcl, Kiserit dan Borax).

- Pemupukan ekstra dengan pupuk Borax pada tanaman muda sangat penting, karena kekurangan Borax (Boron deficiency) yang berat dapat mematikan tanaman kelapa sawit.

- Dosis pupuk yang digunakan disesuaikan dengan anjuran Balai Penelitian untuk TBM (Tanaman Belum Menghasilkan).

- Untuk tanaman menghasilkan dosis yang digunakan berdasarkan analisis daun.

- Dosis pemupukan tergantung pada umur tanaman.

- Contoh dosis pemupukan pada tanaman yang sudah menghasilkan adalah sebagai berikut :

Urea : 2,0 – 2,5 kg/ph/th → diberikan 2 x aplikasi

KCl : 2,5 – 3,0 kg/ph/th → diberikan 2 x aplikasi

Kiserit / MAGNESIUM  : 1,0 – 1,5 kg/ph/th → diberikan 2 x aplikasi

TSP : 0,75 – 1,0 kg/ph/th → diberikan 1 x aplikasi

Borax : 0,05 – 0,1 kg/ph/th → diberikan 2 x aplikasi

Untuk tanaman yang belum menghasilkan, yang berumur 0 – 3 tahun, dosis pemupukan per pohon per tahunnya adalah sebagai berikut :

Urea : 0,40 – 0,60 kg

TSP : 0,25 – 0,30 kg

KCl : 0,20 – 0,50 kg

Kiserit / MAGNESIUM : 0,10 – 0,20 kg

Borax : 0,02 – 0,05 kg

- Pada tanaman belum menghasilkan pupuk N,P,K,Mg,B ditaburkan merata dalam piringan mulai jarak 20 cm dari pokok sampai ujung tajuk daun. Aplikasi pupuk tunggal juga dapat digantikan dengan aplikasi pupuk majemuk NPK dengan komposisi 12:12:17:2 dengan dosisi 1.0 – 1,5 Kg/pokok.

- Pada tanaman yang sudah menghasilkan: pupuk N ditaburkan merata mulai jarak 50 cm dari pokok sampai di pinggir luar piringan. Pupuk P,K dan Mg harus ditaburkan merata pada jarak 1 – 3 meter dari pokok. Pupuk B ditaburkan merata pada jarak 30 – 50 cm dari pokok. Aplikasi ini juga dapat digantikan dengan apalikasi Pupuk NPK+ACTIVATOR Cap PLATINUM dengan dosis 1,0 – 1,5 Kg/pokok.

- Waktu pemberian pupuk sebaiknya dilaksanakan pada awal musim hujan (September – Oktober), untuk pemupukan yang pertama dan paada akhir musim hujan (Maret – April) untuk pemupukan yang kedua.

e. Pemangkasan daun

Maksud pemangkasan daun adalah untuk memperoleh pokok yang bersih, jumlah daun yang optimal dalam satu pohon dan memudahkan panenan. Memangkas daun dilaksanakan sesuai dengan umur / tingkat pertumbuhan tanaman.

Macam-macam pemangkasan :

- Pemangkasan pasir, yaitu pemangkasan yang dilakukan terhadap tanaman yang berumur 16 – 20 bulan dengan maksud untuk membuang daun-daun kering dan buah-buah pertama yang busuk. Alat yang digunakan adalah jenis linggis bermata lebar dan tajam yang disebut dodos.

- Pemangkasan produksi, yaitu pemangkasan yang dilakukan pada umur 20 – 28 bulan dengan memotong daun-daun tertentu sebagai persiapan pelaksanaan panen. Daun yang dipangkas dalah songgo dua (yaitu daun yang tumbuhnya saling menumpuk satu sama lain), juga buah-buah yang busuk. Alat yang digunakan adalah dodos seperti pada pemangkasan pasir.

- Pemangkasan pemeliharaan, adalah pemangkasan yang dilakukan setelah tanaman berproduksi dengan maksud membuang daun-daun songgo dua sehingga setiap saat pada pokok hanya terdapat daun sejumlah 28 – 54 helai. Sisa daun pada pemangkasan ini harus sependek mungkin (mepet), agar tidak mengganggu dalam pelaksanaan panenan.

Hama dan Penyakit Kelapa Sawit

Hama

a. Hama Tungau

Penyebab: tungau merah (Oligonychus). Bagian diserang adalah daun. Gejala: daun menjadi mengkilap dan berwarna bronz. Pengendalian: Semprot dengan menggunakan pestisida.

b. Ulat Setora

Penyebab: Setora nitens. Bagian yang diserang adalah daun. Gejala: daun dimakan sehingga tersisa lidinya saja. Pengendalian: Penyemprotan dengan Pestisida.

Penyakit

a. Root Blast

Penyebab: Rhizoctonia lamellifera dan Phythium Sp. Bagian diserang akar. Gejala: bibit di persemaian mati mendadak, tanaman dewasa layu dan mati, terjadi pembusukan akar. Pengendalian: pembuatan persemaian yang baik, pemberian air irigasi di musim kemarau, penggunaan bibit berumur lebih dari 11 bulan.

b. Garis Kuning

Penyebab: Fusarium oxysporum. Bagian diserang daun. Gejala: bulatan oval berwarna kuning pucat mengelilingi warna coklat pada daun, daun mengering. Pengendalian: inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda.

c. Dry Basal Rot

Penyebab: Ceratocyctis paradoxa. Bagian diserang batang. Gejala: pelepah mudah patah, daun membusuk dan kering; daun muda mati dan kering. Pengendalian: adalah dengan menanam bibit yang telah diinokulasi penyakit.

Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata dengan dosis + 5 ml . Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapaqt dicampur dengan Perekat Perata dengan dosis + 5 ml.

    

Panen

Tanaman kelapa sawit mulai berbuah setelah berumur 2,5 tahun dan proses pemasakan buah berkisar 5 – 6 bulan setelah terjadinya penyerbukan. Buah kelapa sawit dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5 pohon kelapa sawit rata-rata terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan buah matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih.

Sumber: Rangkuman dari berbagai sumber.

%d bloggers like this: